0
News
    Home diet viral gizi seimbang kesehatan life tech peristiwa puasa ramadhan tips sahur

    Viral Sahur Full Protein: Dokter Ingatkan Bahaya Gerus Massa Otot

    "Tren sahur full protein viral demi diet instan. Ahli gizi peringatkan risiko dehidrasi hingga kerusakan otot. Simak fakta medis selengkapnya."

    2 min read

    Viral Sahur Full Protein: Dokter Ingatkan Bahaya Gerus Massa Otot

    POJOKBENGKULU.COM - Dinamika tren gaya hidup di media sosial terus bergulir, terutama di bulan suci Ramadhan. Belum usai perdebatan mengenai sahur 'full karbo', kini warganet disuguhi fenomena baru yang bertolak belakang: sahur 'full protein'. Tren ini mengajak masyarakat untuk meneliminasi nasi dan karbohidrat lainnya saat sahur, menggantinya secara total dengan asupan hewani seperti daging sapi, ayam, atau telur rebus.

    Narasi yang dibangun cukup menggiurkan bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan secara instan. Klaim utamanya adalah metode ini mampu menjaga gula darah tetap stabil dan memaksa tubuh membakar cadangan lemak sebagai energi utama. Namun, Bengkulu Digital Insight (BDI) menelusuri fakta medis di balik tren ini dan menemukan adanya risiko kesehatan serius yang justru kontraproduktif dengan esensi puasa itu sendiri.

    Mitos Pembakaran Lemak vs Realitas Biologis

    Dokter spesialis gizi klinik, dr. Raissa E Djuanda, SpGK, AIFOK, FINEM, memberikan peringatan keras terhadap praktik diet ekstrem ini. Secara fisiologis, tubuh manusia memiliki mekanisme prioritas dalam penggunaan energi. Meskipun secara teori tubuh dapat memasuki fase ketosis (menggunakan lemak sebagai energi) saat karbohidrat rendah, realitanya tidak sesederhana itu.

    Dr. Raissa menekankan bahwa saat berpuasa, tubuh tetap memprioritaskan glukosa sebagai bahan bakar utama, khususnya untuk fungsi vital otak dan sel darah merah. Ketika asupan karbohidrat ditiadakan sama sekali saat sahur, tubuh tidak sertamerta membakar lemak di perut atau paha. Tubuh justru berpotensi melakukan mekanisme pertahanan dengan memecah protein otot (katabolisme) untuk diubah menjadi glukosa. Alih-alih mendapatkan tubuh ideal, pelaku diet ini justru berisiko kehilangan massa otot yang berharga.

    Ancaman Dehidrasi dan Gangguan Kognitif

    Penerapan sahur full protein tanpa keseimbangan nutrisi membawa dampak jangka pendek yang dapat mengganggu produktivitas harian dan kekhusyukan ibadah. Redaksi BDI mencatat beberapa risiko krusial yang dipaparkan oleh ahli:

    • Penurunan Fungsi Otak: Otak adalah organ yang sangat bergantung pada glukosa. Absennya karbohidrat memicu kelelahan ekstrem, rasa lemas yang datang lebih cepat, serta kesulitan berkonsentrasi. Hal ini tentu berbahaya bagi mereka yang harus bekerja atau berkendara saat berpuasa.
    • Risiko Dehidrasi Meningkat: Ini adalah poin yang sering luput dari perhatian. Metabolisme protein menghasilkan limbah nitrogen berupa urea yang harus dibuang melalui urin. Proses pembuangan ini membutuhkan banyak air. Mengingat saat puasa kita tidak minum selama belasan jam, beban kerja ginjal akan meningkat dan risiko dehidrasi menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan pola makan biasa.
    • Gangguan Pencernaan: Eliminasi karbohidrat kompleks biasanya berbarengan dengan hilangnya asupan serat. Akibatnya, sistem pencernaan melambat dan memicu konstipasi atau sembelit yang menyiksa.

    Kembali ke Prinsip Gizi Seimbang

    Di tengah gempuran informasi viral yang belum tentu valid, masyarakat harus kembali pada prinsip kesehatan yang teruji. Sahur bukanlah ajang eksperimen tubuh yang ekstrem. Dr. Raissa menyarankan penerapan gizi seimbang dalam satu piring sahur untuk menjaga stamina tetap prima hingga waktu berbuka.

    Komposisi ideal sahur sebaiknya mencakup karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oat, atau umbi-umbian yang melepaskan energi secara perlahan. Komponen ini harus didampingi oleh protein berkualitas (telur, ikan, tahu/tempe) untuk pemeliharaan sel, serta lemak sehat dari alpukat atau kacang-kacangan. Tak kalah penting, asupan serat dari sayur dan buah mutlak diperlukan untuk menjaga rasa kenyang lebih lama dan kesehatan pencernaan.

    Kesimpulannya, tren sahur full protein dinilai tidak aman bagi mayoritas populasi karena mengganggu keseimbangan metabolisme. Jangan korbankan kesehatan jangka panjang dan massa otot Anda hanya demi tren viral sesaat.

    Additional JS
    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Responsive Ads
    Responsive Ads